Ketika Mental Health Tergelincir Jadi Kebencian Politik
thevalleyrattler.com – Beberapa tahun terakhir, istilah mental health semakin akrab di telinga. Awalnya, diskusi seputar kesehatan jiwa tumbuh sebagai gerakan empati. Orang mulai berani bercerita tentang trauma, depresi, kecemasan, juga tekanan hidup modern. Namun, di tengah meningkatnya kesadaran itu, muncul fenomena baru yang mengkhawatirkan: bahasa kekerasan politik justru ikut diselipkan ke dalam narasi kesehatan mental. Bukan sebagai upaya penyembuhan, melainkan pembenaran untuk melampiaskan amarah.
Kasus seorang influencer liberal yang mengunggah video latihan menembak sambil menyatakan diri tengah bersiap “membunuh” lawan politik adalah contoh ekstrem betapa rapuhnya batas kewarasan publik. Alih-alih menunjukkan proses mengelola emosi dengan sehat, aksi tersebut mengglorifikasi kekerasan secara terbuka. Situasi ini memaksa kita mengajukan pertanyaan sulit: apakah kita benar-benar peduli pada mental health, atau sekadar memakainya sebagai label keren sambil memupuk kebencian terhadap pihak lain?
Ketika percakapan politik berubah menjadi arena hujatan, kesehatan jiwa ikut menjadi korban. Bagi banyak orang, berita, cuitan, serta video bernada ancaman sudah menjadi bagian rutinitas harian. Konten seperti video influencer di lapangan tembak itu menambah lapisan stres baru. Otak menerima sinyal bahwa lawan politik bukan lagi sekadar berbeda pandangan, melainkan musuh yang pantas disingkirkan. Narasi seperti ini memperburuk kecemasan kolektif, terutama bagi mereka yang sudah rentan secara mental.
Istilah mental health seharusnya merujuk pada upaya menjaga kestabilan emosi, kemampuan berpikir jernih, serta relasi sosial yang sehat. Namun, ketika kata tersebut muncul beriringan dengan ancaman kekerasan terhadap kelompok “MAGA f**ks” atau pihak mana pun, maknanya tereduksi. Kesehatan jiwa berubah menjadi slogan kosong, ditumpangi dendam politik. Di satu sisi, publik diminta empati terhadap luka batin seseorang, tetapi di sisi lain, orang tersebut merayakan fantasi melukai orang lain. Kontradiksi semacam ini merusak kepercayaan terhadap gerakan kesadaran kesehatan mental itu sendiri.
Polarisasi politik membuat banyak individu merasa hidup seolah berada di garis depan pertempuran. Rasa terancam, marah, tersisih, bercampur dengan kelelahan emosional dari siklus berita tanpa henti. Dalam kondisi rapuh seperti itu, sebagian memilih pelarian berbahaya: mencari katarsis emosi dengan meneriakkan kekerasan. Bagi pengikut yang lelah secara psikologis, figur publik yang berani mengekspresikan kemarahan ekstrem bisa terasa melegakan. Namun, rasa lega instan itu ibarat obat bius yang menumpulkan nurani, bukan terapi jangka panjang yang menyehatkan mental health.
Banyak pendukung influencer semacam ini mungkin akan berkilah, “Itu cuma bercanda,” atau “Hanya sarkasme untuk melawan kelompok intoleran.” Humor gelap memang sering dipakai untuk melawan stres, termasuk tekanan politik. Namun, psikologi sosial menunjukkan bahwa pengulangan lelucon kekerasan dapat menurunkan sensitivitas terhadap penderitaan orang lain. Akhirnya, kekerasan verbal terasa normal, bahkan lucu. Dari sana, jarak menuju kekerasan nyata semakin pendek. Batas antara guyonan dengan ancaman perlahan memudar, sementara kerusakan terhadap mental health kolektif makin besar.
Apalagi, media sosial menghadiahi konten provokatif dengan jangkauan luas. Algoritme cenderung mendorong video yang memicu keterlibatan tinggi: marah, takut, atau puas melihat orang lain dipermalukan. Influencer tahu hal ini. Mereka sadar bahwa adegan latihan tembak sambil menghina “MAGA f**ks” akan memancing klik, komentar, serta perdebatan sengit. Namun, di balik angka tayangan, ada manusia nyata yang menyerap pesan tersebut. Sebagian mungkin menganggapnya inspirasi. Sebagian lain trauma melihat kelompoknya disasar sebagai target kekerasan simbolik.
Sisi paling mengganggu muncul ketika kekerasan verbal dibungkus narasi perlawanan moral. Pesan seperti, “Aku peduli pada mental health orang tertindas, maka aku wajar membenci kelompok tertentu tanpa batas,” terdengar heroik di permukaan. Padahal, penelitan terkait trauma justru menunjukkan bahwa siklus kebencian jarang memberi penyembuhan. Rasa marah mungkin terasa sah, terutama jika seseorang pernah tersakiti. Namun mengabadikan kemarahan sebagai identitas politik hanya memperpanjang penderitaan internal. Mental health tidak pulih, justru semakin rapuh.
Influencer dengan jutaan pengikut memegang peran penting terhadap kualitas mental health masyarakat. Mereka bukan sekadar pencipta konten hiburan, melainkan model perilaku emosional publik. Ketika seseorang yang mengaku progresif menjadikan senjata api sebagai simbol ekspresi politik, ia menggeser batas kewajaran diskusi. Secara pribadi, saya melihat ini sebagai pengkhianatan terhadap nilai empati yang kerap diklaim kubu liberal. Kritik keras terhadap kebijakan masih wajar, namun mengarahkannya menjadi fantasi pembunuhan terhadap kubu “MAGA” atau kelompok lawan apa pun menyalakan alarm bahaya. Jika kesehatan jiwa ingin benar-benar dihormati, maka keberanian terbesar bukan terletak pada memamerkan amarah, melainkan pada kemampuan merawat kemanusiaan, bahkan ketika perbedaan politik terasa menyakitkan.
Kekerasan simbolik, seperti ancaman kematian terhadap kelompok tertentu, sering dianggap tidak berbahaya karena “hanya kata-kata”. Padahal, penelitian mengenai stres kronis menunjukkan bahwa paparan terus-menerus terhadap bahasa mengancam meningkatkan kadar kecemasan serta rasa tak berdaya. Bagi minoritas politik, mendengar diri mereka disebut pantas ditembak atau dieliminasi menimbulkan tekanan psikis berkepanjangan. Rasa aman runtuh, kepercayaan terhadap sistem demokrasi ikut terkikis, sehingga mental health warga negara melemah secara menyeluruh.
Di sisi sebaliknya, pelaku kekerasan verbal pun tidak lepas dari dampak. Menjaga kemarahan ekstrem memerlukan energi emosional besar. Otak dipaksa terus menafsirkan lawan politik sebagai ancaman eksistensial. Itu menumbuhkan paranoia, kecurigaan, hingga kelelahan mental. Lama-kelamaan, seseorang bisa kehilangan kemampuan melihat nuansa abu-abu. Dunia terbelah menjadi hitam dan putih: kawan dan musuh. Dalam keadaan seperti itu, terapi apa pun sulit bekerja, karena identitas diri terikat pada rasa benci. Itulah paradoks besar: mereka yang paling lantang bicara keadilan emosional bisa jadi yang paling jauh dari ketenangan batin.
Platform digital memperkuat efek ini. Notifikasi, kutipan ulang, komentar pedas, menyusun ekosistem yang memicu adrenalin. Setiap kali unggahan ekstrem naik daun, sistem hadiah di otak teraktivasi. Para kreator konten belajar bahwa mengancam lawan politik lebih menguntungkan daripada membangun dialog. Sementara itu, penonton perlahan kecanduan drama emosional. Kebiasaan ini mendorong standar interaksi publik turun ke titik di mana kesejahteraan mental health hanya menjadi latar belakang, bukan prioritas. Kondisi tersebut sangat berbahaya bagi demokrasi jangka panjang.
Salah satu narasi paling menggoda sekarang adalah klaim bahwa kekerasan sah bila dilakukan oleh “kubu baik”. Di kalangan sebagian aktivis, muncul keyakinan bahwa musuh politik begitu berbahaya, sehingga bahasa lembut terasa tidak memadai. Dari sana, ancaman terhadap kelompok seperti “MAGA f**ks” dianggap reaksi wajar. Namun logika ini melupakan fakta dasar ilmu psikologi konflik: demonisasi lawan justru memperkuat perlawanan mereka. Orang yang terus diserang martabatnya cenderung bertahan semakin keras, bukan berubah pikiran. Strategi seperti itu mungkin memuaskan nafsu balas dendam, tetapi merusak mental health kedua belah pihak.
Secara pribadi, saya melihat jebakan moral ini sebagai bentuk kelelahan empati. Ketika terlalu lama menyaksikan ketidakadilan atau kebodohan politik, wajar ada rasa muak. Namun, mengizinkan diri terjerumus ke dalam fantasi pembunuhan berarti menyerahkan kontrol emosi kepada orang yang kita benci. Mereka tidak hanya memengaruhi hidup sosial, tetapi juga kondisi batin. Kita kehilangan kapasitas menjaga jarak sehat antara kritik kebijakan dengan penghancuran kemanusiaan lawan. Padahal, inti dari kesehatan mental adalah kemampuan mengelola emosi intens tanpa perlu melukai diri sendiri maupun orang lain.
Usaha membenarkan kekerasan demi kebaikan lebih besar juga mengaburkan akuntabilitas personal. Sudah terlalu sering terdengar pembelaan seperti, “Aku marah karena peduli,” atau “Ini bentuk cinta pada korban ketidakadilan.” Padahal, cinta sejati menuntut disiplin emosi, bukan justru melegitimasi kekejaman simbolik. Bila kita sungguh peduli terhadap korban, mestinya fokus diarahkan pada membangun sistem dukungan mental health, memperkuat komunitas, serta memperbaiki kebijakan publik. Mengalihkan energi pada ancaman fisik hanya memuaskan sisi gelap diri sendiri, sementara masalah struktural tetap tak tersentuh.
Untuk keluar dari lingkaran ini, kita perlu mengakui bahwa mental health bukan milik satu kubu ideologi. Pendukung “MAGA”, liberal, moderat, apatis, semuanya membawa beban emosional masing-masing. Alih-alih memposisikan lawan sebagai target kemarahan, lebih bijak melihat mereka sebagai sesama manusia yang juga berjuang dengan rasa takut, kehilangan, atau kekecewaan. Tentu itu tidak berarti mengabaikan kebijakan berbahaya atau ujaran kebencian. Namun, respons tegas bisa diberi tanpa mengorbankan martabat kemanusiaan. Influencer, jurnalis, serta pengguna biasa memiliki tanggung jawab bersama untuk menata ulang cara berbicara di ruang publik. Jika kita sungguh ingin memajukan kesehatan jiwa, garis merahnya jelas: tidak ada agenda politik, betapa pun mulianya klaim, yang pantas dibela lewat romantisasi kekerasan.
Politik tidak mungkin steril dari emosi. Amarah atas ketidakadilan, sedih melihat korban kekerasan, takut menghadapi masa depan, semuanya bagian wajar dari pengalaman manusia. Tantangannya bukan menghapus emosi itu, melainkan menyalurkannya secara konstruktif. Aktivisme yang ramah mental health berfokus pada pengorganisasian komunitas, pendidikan kritis, dukungan saling jaga, serta advokasi kebijakan. Bukan pada video latihan menembak sambil menyerukan kematian pihak berbeda pilihan politik. Aksi terakhir mungkin viral, tetapi meninggalkan residu ketakutan serta kebencian berkepanjangan.
Kita juga perlu mengingat bahwa algoritme bukan takdir. Pengguna dapat memilih untuk tidak menyebarkan konten yang memicu teror psikologis terhadap kelompok tertentu. Mengganti perilaku berbagi dengan pola bertanya, memeriksa, serta mengkritik tanpa menghina. Pilihan sederhana seperti menahan diri dari komentar penuh caci maki sudah menjadi kontribusi kecil bagi kesehatan jiwa publik. Sekaligus, mengurangi ruang bagi influencer yang menjadikan kekerasan sebagai citra merek. Dalam jangka panjang, lingkungan digital lebih ramah akan berdampak langsung pada penurunan stres, kecemasan, serta rasa terancam.
Pada akhirnya, isu ini bukan hanya tentang satu influencer liberal atau satu kelompok “MAGA”. Ini cermin kondisi kita sebagai masyarakat global yang lelah, terpolarisasi, namun haus makna. Di persimpangan itu, kita bisa memilih dua jalan: menjadikan mental health sekadar label sambil terus mengobarkan kebencian, atau menghidupkannya sebagai kompas moral baru. Kompas yang menuntun kita menjaga kemanusiaan lawan, bahkan saat argumen politik memanas. Jalan kedua lebih sulit, lebih lambat, mungkin kurang viral. Namun, hanya jalan itulah yang memberi kesempatan pada diri sendiri serta generasi berikut untuk hidup di dunia di mana kesehatan jiwa bukan jargon, melainkan kenyataan yang terasa pada cara kita memperlakukan satu sama lain.
thevalleyrattler.com – Setiap awal tahun, ada satu berita atau news yang terasa lebih hangat dari…
thevalleyrattler.com – Dalam arus lifestyle news beberapa bulan terakhir, nama Sydney Sweeney hampir selalu muncul…
thevalleyrattler.com – News main hari ini bukan sekadar soal gaun pesta berkilau atau jas rapi.…
thevalleyrattler.com – Kasus dugaan ijazah palsu yang menjerat Wakil Gubernur Kepulauan Bangka Belitung, Hellyana, kembali…
thevalleyrattler.com – Berita nasional news kembali dikejutkan kabar duka dari laut Nusantara. Tim Basarnas menemukan…
thevalleyrattler.com – Angka inflasi Indonesia tahun 2025 tercatat 2,92 persen menurut rilis resmi terbaru. Sekilas,…